Asal Usul Batavia hingga Jakarta

Asal Usul Batavia hingga Jakarta, Batavia/Batauia adalah nama yang diberikan oleh orang Belanda pada koloni dagang yang sekarang tumbuh menjadi Jakarta, ibu kota Indonesia. Batavia didirikan di pelabuhan bernama Jayakarta yang direbut dari kekuasaan Kesultanan Banten

Asal Usul Batavia hingga Jakarta
Peta Batavia tahun 1818. (wikipedia)
JAKARTA, Batavia/Batauia adalah nama yang diberikan oleh orang Belanda pada koloni dagang yang sekarang tumbuh menjadi Jakarta, ibu kota Indonesia. Batavia didirikan di pelabuhan bernama Jayakarta yang direbut dari kekuasaan Kesultanan Banten.

Sebelum dikuasai Banten, bandar ini dikenal sebagai Kalapa atau Sunda Kalapa, dan merupakan salah satu titik perdagangan Kerajaan Sunda. Dari kota pelabuhan inilah VOC mengendalikan perdagangan dan kekuasaan militer dan politiknya di wilayah Nusantara.

Nama Batavia dipakai sejak sekitar tahun 1621 sampai tahun 1942, ketika Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang. Sebagai bagian dari de-Nederlandisasi, nama kota diganti menjadi Jakarta. Bentuk bahasa Melayunya, yaitu "Betawi", masih tetap dipakai sampai sekarang.

Nama Batavia berasal dari suku Batavia, sebuah suku Jermanik yang bermukim di tepi Sungai Rhein pada Zaman Kekaisaran Romawi. Bangsa Belanda dan sebagian bangsa Jerman adalah keturunan dari suku ini. Batavia juga  merupakan nama sebuah kapal layar tiang tinggi yang cukup besar asal Belanda yang dimililki perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC) ,dibuat pada 29 Oktober 1628, dinakhodai oleh Kapten Adriaan Jakobsz.

Kapal tersebut kini berada di sebuah museum di Fremantle , Australia. Kapal tersebut akhirnya kandas di pesisir Beacon Island, Australia Barat. Dan seluruh awaknya yang berjumlah 268 orang berlayar dengan perahu sekoci darurat menuju kota Batavia ini.

Sunda Kelapa

Bukti tertua mengenai eksistensi permukiman penduduk yang sekarang bernama Jakarta adalah Prasasti Tugu yang tertanam di desa Batu Tumbuh, Jakarta Utara. Prasasti tersebut berkaitan dengan 4 prasasti lain yang berasal dari zaman kerajaan Hindu, Tarumanegara ketika diperintah oleh Raja Purnawarman.

Berdasarkan Prasasti Kebon Kopi, nama Sunda Kalapa (Sunda Kelapa) sendiri diperkirakan baru muncul abad sepuluh. Permukiman tersebut berkembang menjadi pelabuhan, yang kemudian juga dikunjungi oleh kapal-kapal dari mancanegara.

Hingga kedatangan orang Portugis, Sunda Kalapa masih di bawah kekuasaan kerajaan Hindu lain, Pakuan Pajajaran. Sementara itu, Portugis telah berhasil menguasai Malaka, dan tahun 1522 Gubernur Portugis d'Albuquerque mengirim utusannya, Enrique Leme yang didampingi oleh Tomé Pires untuk menemui Raja Sangiang Surawisesa.

Pada 21 Agustus 1522 ditandatangani perjanjian persahabatan antara Pajajaran dan Portugis. Diperkirakan, langkah ini diambil oleh sang raja Pakuan Pajajaran tersebut guna memperoleh bantuan dari Portugis dalam menghadapi ancaman Kesultanan Demak, yang telah menghancurkan beberapa kerajaan Hindu, termasuk Majapahit. Namun ternyata perjanjian ini sia-sia saja, karena ketika diserang oleh Kerajaan Islam Demak, Portugis tidak membantu mempertahankan Sunda Kalapa.

Jayakarta

Pelabuhan Sunda Kalapa diserang oleh tentara Demak pada 1526, yang dipimpin oleh Fatahillah, Panglima Perang asal Gujarat, India, dan jatuh pada 22 Juni 1527, dan setelah berhasil direbut, namanya pun diganti menjadi Jayakarta. Setelah Fatahillah berhasil mengalahkan dan mengislamkan Banten, Jayakarta berada di bawah kekuasaan Banten, yang kini menjadi kesultanan. Orang Sunda yang membelanya dikalahkan dan mundur ke arah Bogor. Sejak itu, dan untuk beberapa dasawarsa abad ke-16, Jayakarta dihuni orang Banten yang terdiri dari orang yang berasal dari Demak dan Cirebon.

Sampai Jan Pieterszoon Coen menghancurkan Jayakarta (1619), orang Banten bersama saudagar Arab dan Tionghoa tinggal di muara Ciliwung. Selain orang Tionghoa, semua penduduk ini mengundurkan diri ke daerah kesultanan Banten waktu Batavia menggantikan Jayakarta (1619).

Batavia

Pieter Both yang menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama, lebih memilih Jayakarta sebagai basis administrasi dan perdagangan VOC daripada pelabuhan Banten, karena pada waktu itu di Banten telah banyak kantor pusat perdagangan orang-orang Eropa lain seperti Portugis, Spanyol kemudian juga Inggris, sedangkan Jayakarta masih merupakan pelabuhan kecil.

Pada tahun 1611 VOC mendapat izin untuk membangun satu rumah kayu dengan fondasi batu di Jayakarta, sebagai kantor dagang. Kemudian mereka menyewa lahan sekitar 1,5 hektare di dekat muara di tepi bagian timur Sungai Ciliwung, yang menjadi kompleks perkantoran, gudang dan tempat tinggal orang Belanda, dan bangunan utamanya dinamakan Nassau Huis.

Ketika Jan Pieterszoon Coen menjadi Gubernur Jenderal (1618 – 1623), ia mendirikan lagi bangunan serupa Nassau Huis yang dinamakan Mauritius Huis, dan membangun tembok batu yang tinggi, di mana ditempatkan beberapa meriam. 

Tak lama kemudian, ia membangun lagi tembok setinggi 7 meter yang mengelilingi areal yang mereka sewa, sehingga kini benar-benar merupakan satu benteng yang kokoh, dan mulai mempersiapkan untuk menguasai Jayakarta.

Dari basis benteng ini pada 30 Mei 1619 Belanda menyerang Jayakarta, yang memberi mereka izin untuk berdagang, dan membumihanguskan keraton serta hampir seluruh pemukiman penduduk. Berawal hanya dari bangunan separuh kayu, akhirnya Belanda menguasai seluruh kota.

Semula Coen ingin menamakan kota ini sebagai Nieuwe Hollandia, namun De Heeren Zeventien di Belanda memutuskan untuk menamakan kota ini menjadi Batavia, untuk mengenang orang Batavia. Jan Pieterszoon Coen menggunakan semboyan hidupnya “Dispereert niet, ontziet uw vijanden niet, want God is met ons” menjadi semboyan atau motto kota Batavia, singkatnya “Dispereert niet” yang berarti “Jangan putus asa”.
Pada 4 Maret 1621, pemerintah Stad Batavia (kota Batavia) dibentuk[1]. Jayakarta dibumiratakan dan dibangun benteng yang bagian depannya digali parit. Di bagian belakang dibangun gudang juga dikitari parit, pagar besi dan tiang-tiang yang kuat. 
Selama 8 tahun kota Batavia sudah meluas 3 kali lipat. Pembangunannya selesai pada tahun 1650. Kota Batavia sebenarnya terletak di selatan Kastil yang juga dikelilingi oleh tembok-tembok dan dipotong-potong oleh banyak parit.

Pada awal abad ke-17 perbatasan antara wilayah kekuasaan Banten dan Batavia mula-mula dibentuk oleh Kali Angke dan kemudian Kali Cisadane. Kawasan sekitar Batavia menjadi kosong. Daerah di luar benteng dan tembok kota tidak aman, antara lain karena gerilya Banten dan sisa prajurit Mataram (1628-1629) yang tidak mau pulang.

Beberapa persetujuan bersama dengan Banten (1659 dan 1684) dan Mataram (1652) menetapkan daerah antara Cisadane dan Citarum sebagai wilayah kompeni. Baru pada akhir abad ke-17 daerah Jakarta sekarang mulai dihuni orang lagi, yang digolongkan menjadi kelompok budak belian dan orang pribumi yang bebas.

Pada 1 April 1905 nama Stad Batavia diubah menjadi Gemeente Batavia. Pada 8 Januari 1935 nama kota ini diubah lagi menjadi Stad Gemeente Batavia. Setelah pendudukan Jepang pada tahun 1942, nama Batavia diganti menjadi "Jakarta" oleh Jepang untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II.

Penduduk

Orang Belanda jumlahnya masih sedikit sekali. Ini karena sampai pertengahan abad ke-19 mereka kurang disertai wanita Belanda dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, benyak perkawinan campuran dan memunculkan sejumlah Indo di Batavia. 

Tentang para budak itu, sebagian besar, terutama budak wanitanya berasal dari Bali, walaupun tidak pasti mereka itu semua orang Bali. Sebab, Bali menjadi tempat singgah budak belian yang datang dari berbagai pulau di sebelah timurnya. Sementara itu, orang yang datang dari Tiongkok, semula hanya orang laki-laki, karena itu mereka pun melakukan perkawinan dengan penduduk setempat, terutama wanita Bali dan Nias.

Sebagian dari mereka berpegang pada adat Tionghoa (misalnya penduduk dalam kota dan Cina Benteng di Tangerang), sebagian membaur dengan pribumi (terutama dengan orang Jawa dan membentuk kelompok Betawi Ora, misalnya: di sekitar Parung). Tempat tinggal utama orang Tionghoa adalah Glodok, Pinangsia dan Jatinegara. Keturunan orang India, orang Koja dan orang Bombay- tidak begitu besar jumlahnya. Demikian juga dengan orang Arab, sampai orang Hadhramaut datang dalam jumlah besar, kurang lebih tahun 1840. 

Banyak di antara mereka yang bercampur dengan wanita pribumi, namun tetap berpegang pada kearaban mereka. Di dalam kota, orang bukan Belanda yang selamanya merupakan mayoritas besar, terdiri dari orang Tionghoa, orang Mardijker dari India dan Sri Lanka dan ribuan budak dari segala macam suku

Jumlah budak itu kurang lebih setengah dari penghuni Kota Batavia. Orang Jawa dan Banten tidak diperbolehkan tinggal menetap di dalam kota setelah 1656. Pada tahun 1673, penduduk dalam kota Batavia berjumlah 27.086 orang. Terdiri dari 2.740 orang Belanda dan Indo, 5.362 orang Mardijker, 2.747 orang Tionghoa, 1.339 orang Jawa dan Moor (India), 981 orang Bali dan 611 orang Melayu.

Penduduk yang bebas ini ditambah dengan 13.278 orang budak (49 persen) dari bermacam-macam suku dan bangsa.

Baca Juga:

Sepanjang abad ke-18, kelompok terbesar penduduk kota berstatus budak. Komposisi mereka cepat berubah karena banyak yang mati. Demikian juga dengan orang Mardijker. Karena itu, jumlah mereka turun dengan cepat pada abad itu dan pada awal abad ke-19 mulai diserap dalam kaum Betawi, kecuali kelompok Tugu, yang sebagian kini pindah di Pejambon, di belakang Gereja Immanuel Jakarta.

Orang Tionghoa selamanya bertambah cepat, walaupun sepuluh ribu orang dibunuh pada tahun 1740 di dalam dan di luar kota. Foto pada kartu pos dari awal abad ke 20 menggambarkan rumah-rumah Tionghoa di Mester atau Meester Cornelis sebutan Jatinegara pada zaman penjajahan Belanda dulu.

Penduduk Batavia yang kemudian dikenal sebagai orang Betawi sebenarnya adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa.

Download Aplikasi
Name

Abdillah,1,Abdul Gani,1,Abdul Hamid,5,Adrianto,10,Agustami,1,Ahok,1,Akhmad Suryadi,2,Alam,1,Albertus Pinus,3,Aloysius,48,AMAN,1,Amerika,1,Anggre Jaya,1,AntaraNews,4,Antariksa,2,Anwar,1,Apai Yak,5,Apkasindo,1,Askiman,1,Asosasi,1,Asrama,1,Ayam,4,BabeNews,2,Bahasa Sekadau,1,Balai Sepuak,5,BAMAGNAS,2,Banjir,2,Bank Kalbar,1,Banser NU,1,Baru,10,Baru Tau,10,Batam,2,Bayar Pajak,3,Bayu,1,Bazar,1,BBGRM,1,Beauty,6,Belitang,4,Belitang Hilir,21,Belitang Hulu,15,Belut,1,Bencana,2,Benrok,1,Beras,1,Berita Bola,2,Berita Terbaru,177,Bersih,1,Bhabinkamtibmas,12,Billiard,3,Binatang,2,Bintang Lucu,1,Bisnis,5,BKMT,1,Bogor,1,Bolu,1,Boombastis,1,BPBD,3,BPKAD,2,BPSP,1,Breaktime,1,Buah,2,Budaya,10,Budidaya,10,Bumi Lawang Kuari,1,Bunai,1,Bunuh Diri,1,Bupati Cup,1,Cabe,2,Cerita,7,Channel,21,Cornelis,4,Curanmor,1,Cyber,1,DAD,10,Daging,1,Dana Desa,1,Dandim 1204,2,Darurat Militer,1,Dayak,3,desa Tapang Semadak,1,Desa Belitang II,1,Desa Boti,1,Desa Cenayan,1,Desa Cupang Gading,1,Desa Empajak,1,Desa Engkersik,1,Desa Ensalang,3,Desa Gonis Tekam,2,Desa Landau Apin,1,Desa Landau Kodah,1,Desa Lembah Beringin,2,Desa Lubuk Tajau,2,Desa Menterap,1,Desa Meragun,1,Desa Merbang,2,Desa Mungguk,14,Desa Nanga Ansar,1,Desa Nanga Kiungkang,4,Desa Nanga Koman,2,Desa Nanga Pemubuh,4,Desa Nanga Semalam,1,Desa Nanga Suri,1,Desa Padak,1,Desa Pantok,1,Desa Perongkan,1,Desa Rawak Hilir,1,Desa Rawak Hulu,2,Desa Rirang Jati,1,Desa Seberang Kapuas,4,Desa Sebetung,1,Desa Selalong,1,Desa Setuntung,1,Desa Sungai Antu Hulu,1,Desa Sungai Ayak,6,Desa Sungai Lawak,4,Desa Sungai Ringin,21,Desa Sungai Sambang,3,Desa Sungai Tapah,1,Desa Tabuk,3,Desa Tanjung,13,Desa Tapang Semadak,2,Desa Terduk Dampak,2,Desa Timpuk,1,Detail Berita,74,Detail Nasional,1,Detail Wisata,1,DetikNews,2,Diare,1,Dinas Disporapar,3,Dinas Kearsipan,3,Dinas Kominfo,1,Dinas Koperasi UKM dan Pedangan,1,Dinas LH,3,Dinas Pendidikan,9,Dinas Perhubungan,5,Dinas Perindagkop & UKM,2,Dinas Pertanian & Perkebunan,2,Dinas PU,4,Dinas Sosial,2,Dinas Sosnakertrans,2,Djafar A.R,1,Djemain Burhan,1,DPRD,28,Durian,1,Dusun Kapus,1,Dwi Harsono,1,e-KTP,2,Ej. Lantu,5,Ekonomi,18,Es,2,Facebook,1,Fanind Jasmine,3,Feedproxy.Google,1,Fendy,3,Filipina,3,FitnessFormen,1,FLS2N,3,Fokmas,4,Forkompinda,1,Fransiska Rustika,2,Fuad,1,Futsal,1,Galeri,6,GAMKI,1,Gawai Dayak,18,Gaya Hidup,1,Gereja,4,Gereja Santo Yesep,1,Gereja St. Petrus Sekadau,1,Giat Anshorrahman,1,Golkar,1,Gorita,1,GOW,3,Grid.Id,1,Gula Merah,2,Hacker,2,Hari Air Sedunia,2,Hari Kartini,7,HarianIndo,1,Hasan SE,1,Heboh,3,HelloSehat,1,Hendrikus Hartadi,1,Henri,3,Henry,1,Herculanus T,1,Heri Handoko,1,Herman A. Bakar,2,Herman B,1,Hermanto,6,Hiburan,14,Hipnotis,1,Hironimus,2,History,15,HKG PKK,2,Hobi,1,Honorer,1,Hukum Adat,2,Hukum dan Ketertiban,22,Humas,3,HUT Polwan,1,HUT Pramuka,1,HUT RI,27,Idin,5,Idul Adha,3,Idul Fitri,5,Ikan,5,Ikan Asin,1,Iklan,4,Ilegal,1,Internasional,15,Internet,1,Investasi,1,IPDN,1,Iptu. Masdar,5,Irjen Erwin Triwanto,1,Isra' Mi'raj,1,Isu Sara,2,Iwas,19,IWO,1,Jafarlin Marbun,1,Jakarta,4,Jalan,8,Jamaah Haji,3,Jamur,1,Jateng,1,Jefray,3,Jembatan,5,Jepang,1,Jokowi,3,jpnn,1,Jupiter,1,Kab. Sekadau,84,Kacang,1,Kalbar,1,Kanisius,1,Kantor Imigrasi,1,Karhutla,1,Kartini Cup,1,Kasat Reskrim,2,Kayong Utara,3,KB,3,KDRT,1,Kebakaran,6,Kebakaran Di Desa Tanjung,4,Kebakaran Hutan,4,Kebersihan,1,Kebun,1,Kecantikan,6,Kecelakaan,7,Kehidupan,1,Kejadian Aneh,2,Kelapa,2,Kelapa Sawit,1,Keling Kumang,1,Kemenag,4,Kemenkes,1,Kepolisian,6,Kesehatan,76,Ketan,1,Keuangan,2,KNPI,2,KNPI Sekadau,1,Koin,1,Kominfo,2,Kompas,2,Komunitas Rattle KING,6,Komunitas Vario,5,KONI,3,Koramil,1,Korut,1,Kreatif,15,Kristina,20,KTNA XV,1,Kubu Raya,1,Kuliner,40,Kumparan,2,Lampu Hias,6,LawangKuari,3,Lebaran,3,Limbah,1,Lingkungan,73,Linmas,1,Lintas Agama,1,Liri Muri,1,LKPJ,1,lomba,7,Lomba Bercerita,3,Lomba Desa,2,Long Amin,1,Lucu,3,M Ginting,1,MABM,4,Macet,1,Makanan,33,Malang,1,Markus,1,Martin Jasmin,1,Martinus Subarno,1,Masdar,2,Masjid,2,Maulid,2,Medan,1,Media Informasi,1,MediaKapuasRaya,2,Medsos,2,Melinda,1,Mempawah,2,Menarik,1,Mencekam,1,Mercon,2,Meriam Karbit,1,Mesir,3,Microsoft,1,Militer,21,Minuman,6,Miras,1,Misa,1,Mistis,1,Mitos,1,Mongabay,1,MotoGP,3,MTAMT,1,Mualang,2,Mudik,3,Muhammad,1,Muhammad Saleh,1,MUI,2,Mumi,2,Musdus,1,Musim,1,Muslimin,1,Musrenbang,2,Mystery,1,Nanga Mahap,16,Nanga Mongko,1,Nanga Taman,25,Narkoba,6,Nasa,1,Nasional,23,Negara Belanda,1,Negera China,1,Niko Bohat,3,NU,1,Nuklir,1,Nurhadi,1,Ny. Frederika,1,O2SN,6,Okezone,3,Olahraga,24,Olimpiade,1,OMK,1,OPD,1,Operasi Pekat,4,Oprasi Pekat,2,Orang Asing,1,Organisasi,3,Pabrik,1,PAD,1,Panjat Pinang,1,Partai Demokrat,3,Partai Golkar,1,Partai PAN,1,Partai PKB,1,Pasar,7,Paskah,6,Paskibra,5,Pastor Kristianus,1,Pastor Valentinus Saeng,1,Paulus Misi,3,Paulus Ugang,2,PDAM,3,Pekan Gawai Dayak VIII Sekadau,14,Pelatihan,1,Pembangunan,2,Pemdes,1,Pemerintah,90,Pemerkosaan,2,Pemkab Sekadau,55,Pemuda,12,Penanjung,2,Pencabulan,1,Penculikan,4,Pencurian,1,Pendidikan,37,penemuan Mayat,3,Penghargaan,2,Penipuan,1,Perampok,1,Perang,1,Perang Dunia Ketiga,1,PERBASI,1,Perda,1,Peresmian,2,Peristiwa,66,Perjudian,1,Pertanianku,6,Perumahan,1,Petasan,1,PGI,1,PKK,19,PKL,2,PKR,1,Planet,1,PLN,4,POBSI,4,Pohon,1,Pohon Enau,1,Polda,4,Politik,9,Polres,54,Polsek,18,Pontianak,9,PoskotaNews,1,PPHI,1,PSSI,4,Pulut,1,Pungli,1,Puskesmas,2,Qurban,1,Radio Dermaga,4,Raja Salman,5,Rajia,1,Rakyat,1,Ramadhan,28,Ramadniya Kapuas,1,Razia,2,Resep,45,Resep Makanan,29,Resep Minuman,1,Ria Norsan,1,Risky Ramahdan Yusuf,1,Rohani,36,RSUD Sekadau,9,Rumah Adat,1,Rumah Betang,2,Rumah Radank,1,Rupinus,94,RUPS,1,Rusmin,1,Salat Ghoib,1,Sambar Petir,1,Samsat,2,Sandae,1,Sanggau,2,Saparudin,2,Sapi,2,Satpol PP,5,Sayur,1,SDB Yos Sudarso,1,SDN 21 Sekadau Hilir,1,SDN 37 Gonis Rabu,1,Sejarah,7,Sekadau,40,Sekadau Hilir,115,Sekadau Hulu,21,Sekda,1,Sekolah,1,Senganan,1,Sepak Bola,20,Sepeda Motor,4,Sewak,1,SH,1,Sidak,1,Simon Petrus,4,SindoNews,1,Singkawang,1,Singkong,1,Sintang,9,SMA Karya,4,SMA Negeri,1,SMA PGRI 5 Rawak,1,SMAN 1 Ng. Mahap,3,SMAN 1 Sekadau,1,Smartphone,4,SMPN 1 Sekadau,1,Smule,2,SOP,1,SP,1,Sports,1,Strawberry,1,SuaraCom,1,Suhardi,1,Sukiman,2,Sumadi,1,Sumardi,2,Sunardi,2,Sutami,1,Takjil,4,Taman Kehati,1,Tarawih,1,Tardisi,1,Teguh,1,Teknologi,7,Tembakan,1,Tenggelam,2,Terminal Lawang Kuari,5,Tim Pora,1,Timlo,1,TNI,6,Tolak Bala,1,Tradisi,6,Tradisional,10,Trapak Community,1,Tribratanewspolressekadau,1,Tribun Kaltim,1,Tribun Timur,1,TribunNews,3,TribunPontianak,4,Tugu PKK,1,Tulasih,1,Tumpal Pardede,4,Turnamen,1,Tutorial,5,Ujian Nasional,4,Ular Piton,1,UMK,1,Unik,13,Valentino Rossi,1,Vixtima Heri Supriyanti,8,Voaindonesia,1,WartaEkonomi,1,Wartakota,2,Welbetus Willy,5,Wisata,8,WTP,1,Yamaha,1,Yodi Setiawan,1,Yohanes Jhon,1,Yok Kelak,8,Youtube,3,Yury Nurhidayat,22,zakaria Umar Arif,1,Zulfi Akli,1,
ltr
item
Sekadau.com: Asal Usul Batavia hingga Jakarta
Asal Usul Batavia hingga Jakarta
Asal Usul Batavia hingga Jakarta, Batavia/Batauia adalah nama yang diberikan oleh orang Belanda pada koloni dagang yang sekarang tumbuh menjadi Jakarta, ibu kota Indonesia. Batavia didirikan di pelabuhan bernama Jayakarta yang direbut dari kekuasaan Kesultanan Banten
https://1.bp.blogspot.com/-_mdVDGojXk4/WHU1feCQAdI/AAAAAAAAIow/U732U2umCDIMYLzrOAheX_Ov-TeD6NlZACLcB/s400/Asal%2BUsul%2BBatavia%2Bhingga%2BJakarta.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-_mdVDGojXk4/WHU1feCQAdI/AAAAAAAAIow/U732U2umCDIMYLzrOAheX_Ov-TeD6NlZACLcB/s72-c/Asal%2BUsul%2BBatavia%2Bhingga%2BJakarta.jpg
Sekadau.com
http://www.sekadau.com/2017/01/asal-usul-batavia-hingga-jakarta.html
http://www.sekadau.com/
http://www.sekadau.com/
http://www.sekadau.com/2017/01/asal-usul-batavia-hingga-jakarta.html
true
7561544028121503484
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy