S-300 Rudal Hanud Yang Paling Diinginkan Untuk Indonesia




Kabar penjajakan pengadaan rudal S-300, bila kelak itu terwujud bakal menjadi lompatan jauh secara teknologi perudalan di TNI, dan secara khusus meningkatkan daya deteren secara maksimal elemen Arhanud (Artileri Pertahanan Udara) TNI. Maklum sejak rudal SA-2 TNI AU pensiun dini, praktis elemen rudal pertahanan udara yang dikelola Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional) hanya ‘bermain’ di zona SHORAD (Short Range Air Defence), dengan backbone rudal kelas MANPADS (Man Portable Air Defence System) dan juga kanon reaksi cepat, yang keduanya hanya mampu melibas target di udara pada ketinggian rendah.

Desakan dan harapan agar Indonesia mempunyai rudal sekelas SA-2 di tahun 60-an bergulir di masyarakat. Selain di dorong rasa inferior sistem hanud yang dimiliki Indonesia, kabar maraknya black flight juga menjadi dasar harapan dari masyarakat agar TNI punya rudal hanud berjarak sedang – jauh. Pengambil keputusan boleh saja memberi statement bahwa komponen radar dan jet buru sergap kini sudah lebih baik, tapi toh konteks yang berbeda jika berbicara rudal yang masuk ke segmen hanud titik.

Dalam simulasi, jika interceptor kita gagal mengendus keberadaan pesawat intai lawan, kemudian musuh masuk jauh ke area obyek vital dengan terbang di ketinggian diatas 10.000 meter, apa yang bisa dilakukan Arhanud? Kombinasi tembakan SAM (Surface to Air Missile) TNI plus meriam penangkis serangan udara dipastikan tidak bisa berbuat banyak, karena jarak tembak yang terbatas.

Mengenai sosok S-300 (SA-10 Grumble), bila suatu saat benar jadi dibeli TNI, maka akan membuat perubahan perimbangan kekuatan di Asia Tenggara dan Australia, apalagi jika TNI AU jadi mendatangkan Sukhoi Su-35, maka peta kekuatan militer akan bergeser di kawasan. Debut S-300 terbilang sukses menjadi lambang eksistensi teknologi Rusia melawan hegemoni Barat. Rudal ini punya bobot 1,5 ton dengan hulu ledak 100 kg. S-300 dengan panjang 7 meter ini sanggup melesat dengan kecepatan 2 km per detik atau setara Mach 6, sehingga sangat sulit bagi pesawat lawan untuk lepas dari kejaran rudal ini. Jarak jelajah rudal ini pun terbilang spektakuler, antar varian ada perbedaan, tapi yang paling jauh bisa melesat sampai 200 km. Nah, soal ketinggian pun tak ada tandingannya, target di ketinggian 30.000 meter pun mampu disikat.

Namun, untuk mendatangkan paket S-300 tentu tidak murah. Mengutip sumber dari freebeacon.com, Iran mengakuisisi empat paket sistem S-300 senilai US$900 juta. Paket siste, rudal ini mencakup long range surveillance radar, command vehicle, engagement radar dan tentunya launch vehicle. Yang dibeli Iran memang varian terbaru, yakni S-300V4. Sistem rudal tersebut lebih efektif 2,3x ketimbang varian S-300 standar. Kecanggihan rudal ini mampu menembak jatuh rudal balistik medium-range ballistic missiles (MRBM) dari jarak 2.500 km. indomiliter

Rekomendasi Kami

Ads
Lihat Berita Lainnya