JOKOWI: Hanya Sebatas Plastik, di Manakah Chip di e-KTP?

https://news.detik.com/berita/d-3457994/disebut-jokowi-cuma-sebatas-plastik-di-manakah-chip-di-e-ktp?


Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
DETIK.COM (Jakarta) - Presiden Joko Widodo menyindir kualitas e-KTP yang hanya sebatas plastik. Padahal e-KTP ini digembar-gemborkan memiliki chip canggih di dalamnya.
Foto: Ilustrator Mindra Purnomo

DETIK.COM (Jakarta) - Presiden Joko Widodo menyindir kualitas e-KTP yang hanya sebatas plastik. Padahal e-KTP ini digembar-gemborkan memiliki chip canggih di dalamnya. Lantas di manakah keberadaan chip itu?

Jokowi pun menyesalkan proyek yang menghabiskan anggaran Rp 6 triliun tersebut hanya berhasil memindahkan jenis KTP 'kertas' menjadi 'plastik'.

"Jadi kita mohon maaf kalau masih ada problem seperti itu. Karena memang mestinya peralatannya kan, 'crek' rampung, 'crek' rampung. Habisnya (Rp) 6 triliun, jadinya hanya KTP yang dulunya kertas sekarang plastik, hanya itu saja. Sistemnya tidak benar," kata Jokowi saat ditemui wartawan usai dirinya meninjau pameran IFEX 2017 di JI Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu, 11 Maret 2017.

Untuk diketahui, sebenarnya perbedaan KTP Elektronik (e-KTP) dengan KTP konvensional terletak pada chip yang disematkan di dalamnya. Tetapi banyak yang tak mengerti apakah betul chip itu benar-benar bisa berfungsi.

Penyematan chip dalam e-KTP memunculkan proyek bernilai 5,8 triliun Rupiah di tahun 2012. Bahkan 49 persen duit dari proyek ini pun jadi bancakan sederet oknum pejabat korup.

Berbeda dengan kartu ATM atau pun kartu kredit, chip pada e-KTP tak tampak di luar. Tak jarang orang mengira bahwa e-KTP hanyalah sama dengan KTP biasa namun berbahan dasar plastik.

"KTP-el tersusun dari 7 lapisan. Chip ada dalam lapisan keempat. Bisa dibaca dengan card reader. Chip tidak bisa dilihat dengan mata, harus dilihat dengan card reader tersebut," ujar Dirjen Dukcapil Zudan Arif saat dikonfirmasi detikcom, Senin (27/3/2017).

Pada tahun 2013, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memamerkan card reader buatannya. Fungsi dari alat itu adalah untuk membaca data yang terdapat pada e-KTP seseorang.

DETIK.COM (Jakarta) - Presiden Joko Widodo menyindir kualitas e-KTP yang hanya sebatas plastik. Padahal e-KTP ini digembar-gemborkan memiliki chip canggih di dalamnya.
Foto: Bagus Prihantoro Nugroho/detikcom
detikcom pun mencoba menggunakan alat tersebut dan rupanya memang benar, muncul data diri pemegang e-KTP. Tetapi bukan berarti begitu e-KTP ditempelkan, data langsung keluar.

Mula-mula, e-KTP didekatkan pada card reader pada jarak sekitar 1 cm. Setelah itu ditunggu hingga sekitar 10 detik. Setelah itu pemegang e-KTP menempelkan sidik jari untuk validasi.

"Kalau misal valid prosesnya akan jalan terus lalu muncul data dirinya. Ketika salah diberi kesempatan sampai maksimal 4 kali cek sidik jari," jelas Kepala Program e-KTP BPPT Gembong S Wibowanto pada Rabu, 15 Mei 2013.

Setelah itu Gembong mendemonstrasikan bila sidik jari yang ditempelkan adalah bukan pemegang e-KTP yang sedang dibaca. Muncul kemudian tulisan 'Access Denied' pada layar.

Biaya produksi alat tersebut sekitar Rp 5 juta per unitnya. BPPT hanya berperan untuk membuat purwarupanya, tak boleh memproduksi massal alat tersebut.

Secara umum alat tersebut menggunakan teknologi Radio Frequency Identification (RFID). Saat itu, BPPT berharap banyak instansi memiliki alat tersebut untuk membaca e-KTP.

Keesokan harinya pada Kamis, 16 Mei 2013, Kemendagri rapat dengan Komisi II DPR RI. Saat itu Kemendagri juga membawa alat baca e-KTP, namun tak hanya dari BPPT saja. Card reader buatan AS dan Korea Selatan pun dibawa.

Saat dibaca menggunakan card reader buatan Korea Selatan dan AS, e-KTP memunculkan data diri lengkap hingga foto dan tanda tangan pemegangnya. Buatan BPPT pun tak jauh berbeda, hanya saja proses pembacaannya lebih lama beberapa detik. Meski demikian, ini membuktikan bahwa e-KTP sudah dilengkapi chip yang datanya bisa dibaca.

Pada tahun 2015, tercatat 5 bank mulai menggunakan data e-KTP. Kelima bank yang mengajukan kerja sama dengan Kemendagri untuk akses data e-KTP, yaitu Bank Syariah Mandiri, Bank Danamon, Bank Permata, Bank Sinarmas, Bank BTPN termasuk PT Pefindo.

Di tahun yang sama, BPPT kemudian mengeluarkan alat yang memungkinkan agar Pemilu menggunakan e-Voting. Data yang digunakan berbasis dari e-KTP yang sudah menggunakan NIK tunggal. Sehingga kecil kemungkinan masih ada yang memilih lebih dari sekali.

(bag/tor)

Ads

Rekomendasi Kami

Ads
Lihat Berita Lainnya