Kesepakatan yang Dicapai Kadin Indonesia dengan Arab Saudi

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama The Council of Saudi Arabia Chambers of Commerce and Industry bertemu dalam acara business forum di Ballroom Grand Hyatt, Jakarta
Gambar:Fajaronline.com

SEKADAU.COM - Indonesia dan Arab Saudi menandatangani empat perjanjian baru terkait peningkatan kerja sama kedua negara. Kemarin (2/3), Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama The Council of Saudi Arabia Chambers of Commerce and Industry bertemu dalam acara business forum di Ballroom Grand Hyatt, Jakarta.

Keempat nota MoU (Memorandum of Understanding) ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani dengan Vice Chairman The Council of Saudi Arabia Chambers of Commerce and Industry Showimy A Aldossari. Penandatangan itu turut disaksikan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Senior Minister Saudi Arabia Dr Ibrahim Al Assaf dan Kepala BKPM Thomas Lembong.

Kesepakatan yang tertuang didalam empat MoU tersebut antara lain peningkatan kerjasama di sektor properti, energi, kesehatan, serta haji dan umroh. ”Total nilai MoU kurang lebih USD 2,4 Miliar. Di antaranya adalah kerjasama antara PT Wijaya Karya dengan salah satu perusahaan di Arab Saudi untuk membangun sebanyak 8000 rumah di Arab Saudi. Tahun ini akan mulai diproses, mudah-mudahan tahun depan sudah mulai realisasi,” ujar Rosan kemarin (2/3).

Selain pembangunan 8000 rumah, dalam MoU juga tertuang kerja sama Indonesia dan Arab Saudi untuk membangun biomass powerplant, fasilitas health care, serta penambahan fasilitas dan kuota untuk haji dan umroh. Mengenai detail dari kerja sama-kerja sama tersebut, Rosan masih enggan untuk bercerita lebih jauh.

”Yang jelas untuk pembangunan perumahan itu nilai investasinya mencapai USD 2 miliar, health care investasinya sekitar USD 100 juta, sisanya masih belum diketahui besarannya,” tambah Rosan.

Ketua Komite Timur Tengah Kadin Indonesia Fachry Thaib menyatakan bahwa MoU ini masih sebagai langkah awal, artinya belum ada realisasi yang ditempuh. ”Dengan kedatangan Raja Salman, kami mengharapkan MoU tersebut dapat bergulir. Mudah-mudahan investasinya beneran datang. Soal implementasi itu pasti masih lama,” ujar Fachry.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan bahwa MoU tersebut masih akan dilakukan join study untuk mengambil langkah selanjutnya. ”Ya kita masih join study, nanti akan ada kontraktor yang diundang ke sana (Arab Saudi, Red). BUMN akan kita dorong, tetapi kalau ada swasta yang berani juga akan kita dorong,” ujar Enggar.

Sementara itu di tempat lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menambahkan bahwa pihaknya memastikan kerjasama dengan pihak Arab Saudi tidak hanya pada penandatanganan MoU terkait investasi Saudi Aramco dan Pertamina untuk kilang Cilacap.

Jonan menuturkan, Arab Saudi juga tertarik unuk investasi yang lebih besar dari Arab Saudi di proyek kilang di Indonesia. Mulai dari Refinery Development Masterplan Program (RDMP) Dumai, Balongan dan Bontang.

"Yang Balongan sedang dibicarakan (oleh Pertamina dan Saudi Aramco)," ujarnya saat ditemui di JS Luwansa, Jakarta, Kamis (2/3).

Dia melanjutkan, pemerintah Indonesia akan benar-benar memanfaatkan momentum kunjungan rombongan Raja Arab Saudi untuk mempererat kerja sama di berbagai sektor, khususnya sektor energi.

"Sudah ada satu kerja sama antara Saudi Aramco dengan Pertamina untuk pengembangan refinery di Cilacap nilainya mungkin USD 5,5 sampai USD 6 miliar,’’ katanya.

Saudi Aramco yang merupakan perusahaan pelat merah milik pemerintah Arab Saudi sebenarnya sempat berminat bekerja sama di proyek RDMP Balongan dan RDMP Dumai. Namun, kerja sama itu batal setelah Head of Agreement (HoA) untuk RDMP Balongan dan Dumai tak kunjung ditandatangani setelah melewati batas waktu pada 26 November 2016.

Pembatalan kerja sama pembangunan RDMP dengan Saudi Aramco disebabkan karena ada ketidaksepahaman dalam target pembangunan. Pertamina menginginkan proyek Kilang Balongan dipercepat dua tahun dari target awal tahun 2022 menjadi tahun 2020.

Saat ini kapasitas terpasang seluruh kilang Pertamina mencapai 853 ribu barel per hari (bph). Sedangkan kebutuhan minyak Indonesia tercatat sebesar 1,57 juta bph. Apabila seluruh RDMP ini selesai, maka kapasitas keempat kilang itu akan naik dari 820 ribu bph menjadi 1,61 juta bph.

Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak mengatakan bahwa Saudi Aramco akan menginvestasikan USD 7 miliar (Rp93,33 triliun) untuk pembangunan proyek kilang minyak raksasa Petronas di proyek Refinery and Petrochemical Integrated Development (RAPID) di Pengerang, Johor. (jpg)

Berita: Fajaronline.com

Rekomendasi Kami

Ads
Lihat Berita Lainnya