Liga Arab: Serangan Gas Kimia di Suriah Kejahatan Besar

https://news.detik.com/internasional/d-3465978/kepala-liga-arab-serangan-gas-beracun-di-suriah-kejahatan-besar

Rita Uli Hutapea - detikNews
Responsive image Korban serangan gas beracun di Suriah (Foto: Ammar Abdullah/Reuters)

DetikNews.com (Damaskus) - Puluhan orang tewas akibat serangan kimia di sebuah kota yang dikuasai pemberontak di Suriah. Kepala Liga Arab Ahmed Aboul Gheit mengutuk serangan tersebut dan menyebutnya sebagai kejahatan besar.

"Menargetkan dan menewaskan warga sipil dengan metode terlarang ini dianggap sebagai kejahatan besar dan perbuatan barbar," cetus Aboul Gheit seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (5/4/2017).

"Siapapun yang melakukan itu tak akan luput dari keadilan, dan harus dihukum oleh komunitas internasional sesuai hukum internasional dan hukum kemanusiaan internasional," tandasnya tanpa merinci siapa yang harus bertanggung jawab.


Sebelumnya, kelompok pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights menyatakan, serangan gas beracun di kota Khan Sheikhun, di provinsi Idlib pada Selasa (4/4) telah menewaskan sedikitnya 72 orang, termasuk anak-anak. Observatory menyatakan, serangan kimia tersebut kemungkinan dilakukan oleh pesawat-pesawat tempur rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad. Pemerintahan Assad telah membantah tudingan tersebut.

Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris juga menyalahkan rezim Assad atas serangan tersebut. Namun Rusia membela sekutunya, Suriah dengan menyatakan bahwa gas beracun yang menewaskan banyak orang tersebut berada di sebuah gudang milik pemberontak yang terkena serangan udara rezim Assad.

Serangan gas beracun tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah pada pasukan yang setia pada rezim Assad dituduh menggunakan senjata kimia dalam serangan di provinsi Hama. Pihak oposisi menuduh pasukan pemerintah menggunakan 'bahan beracun' dalam pertempuran menghadapi para pemberontak. Menurut Observatory, sekitar 50 orang mengalami gangguan pernapasan akibat serangan udara di sebelah utara provinsi Hama pada Kamis (30/3) waktu setempat itu.
(ita/ita)

Topik Terkait: