Dekranasda Sekadau Kunjungi Pengrajin Tenun Songket Sukarara

Dekranasda Sekadau Kunjungi Pengrajin Tenun Songket Sukarara
LOMBOK TENGAH, SEKADAU.COM - Usai mengunjungi pengrajin anyaman bambu dan pengrajin anyaman rotan yang berada di Desa Dasan Bare Gunung Sari Lombok Barat, Dewan Kerajinan Nasional Daerah  (Dekranasda) Kabupaten Sekadau yang dimpin langsung oleh Ketua dan wakil Ketua Dekranasda Ny. Kristina Rupinus, S.Pd, M.Si dan Ny. Heri Supriyanti, A.Md mengunjungi pengrajin tenun songket di desa sukarara, Kecamatan Jonggot, Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara barat pada, Jumat 27 Oktober 2017 pekan lalu.

Dalam kunjungannya kepengrajin tenun songket sukarara, rombongan dekranasda kabupaten sekadau juga didampingi dewan pembina pengrajin songket Sukarara yang juga sebagai pemandu M. Sareh Erwin.

Dewan Pembina Pengrajin Tenun Songket, M. Sareh Erwin mengatakan Desa Sukarara merupakan desa pengrajin tenun songket terbesar di Lombok, bahkan sampai menembus pasar eksport.

Hampir dari setiap rumah di Desa Sukarare memiliki alat menenun. Berbagai moti di hasilkan dan memiliki makna sennndiri dari setiap motif.

Dijelaskan oleh Erwin, kain tenun yang dihasilkan di Desa Sukarara adalah Kain tenun dengan benang emas yang biasa disebut Kain Songket.

Kain Songket ini merupakan kain tenunan yang dibuat dengan berbagai teknik, mulai dari teknik menambah benang pakan dan teknik membuat hiasan dengan menyisipkan benang perak, emas atau benang warna di atas benang lungsi.

Menurutnya sebagian besar wanita di Desa Sukarara bekerja sebagai penenun untuk menjaga dan melestarikan budaya dan tenun tradisional yang diwarisi oleh nenek moyang mereka.

Selain itu, menurut tradisi, Menenun sudah menjadi hal yang wajib bagi wanita di desa Sukarara. Mereka tidak boleh menikah sebelum pandai menenun.

Pekerjaan menenun ini biasanya dilakukan di teras depan toko atau rumah. Pemandangan ini tidak hanya dijumpai di toko yang saya kunjungi ini saja, tetapi hampir sepanjang jalan di desa Sukarara.

Dikatakan lagi oleh Erwin, sebagian besar kaum wanita di desa Sukarara memilih menjadi seorang penenun, karena memang sejak kecil mereka sudah diajarkan oleh para orang tua mereka cara menenun, sehingga tetap dilestarikan sampai saat ini.

“Desa ini memiliki unik yaitu para kaum wanita yang akan menikah diwajibkan untuk memberikan kain tenun yang harus dibuat sendiri kepada calon suami,” ujarnya.

Ketua dan wakil ketua Dewan kerajinan Nasional daerah Kabupaten Sekadau dan rombongan dalam kesempatan itu berdialog langsung dengan para pengrajin tenun songket.

Tidak hanya itu rombongan dekranasda Kabupaten Sekadau juga berkesempatan melihat langsung aktivitas tenun yang dilakukan oleh para pengrajin tenun songket di kampung sukarara.

Disamping berdialog dan melihat aktivitas para pengrajin tenun songket rombongan Bupati juga diajak oleh instruktur yang juga dewan pembina pengrajin songket untuk melihat proses pewarnaan tenun yang dilakukan oleh para pengrajin songket.

Sementara itu Ketua Dekranasda Kabupaten Sekadau Kristina mengatakan tujuannya mengunjungi pengrajin tenun songket di sukarara adalah untuk melihat langsung proses dari pembuatan kain tenun yang dilakukan oleh para pengrajin.

“Kita dapat melihat langsung proses dari pembuatan kain tenun termasuk juga proses pewarnaan. Makanya dalam kunjungan ini kita juga membawa langsung pengrajin tenunnya, kita punya potensi untuk mengembangkan kerajinan tenun bahkan kita juga sudah punya kelompok pengrajin tenun, untuk itu kita ingin pengrajin ini melihat langsung dan belajar mengenai proses tenun sampai pada proses pewarnaan". Jelasnya.

Lanjut Kristina "Kita ingin memberikan motivasi kepada pengrajin kita untuk bisa mengembangkan dan menekuni usaha pengrajin tenun ini. Kita yakin jika usaha ini ditekuni dengan baik dan ulet pasti akan membawa hasil yang lebih baik dalam rangka untuk meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga". Ujarnya. (Bersambung)

Penulis : Hartono Humas Pemkab
Laporan : Joy
Editor  : Yakop

Rekomendasi Kami

Ads
Lihat Berita Lainnya