Foto kondisi Advent Bangun sebelum meninggal

JAKARTA, SEKADAU NEWS - Kepergian sosok Advent Bangun kemarin menjadi kehilangan baru bagi dunia perfilman.  Advent Bangun memainkan sejumlah film laga seperti Si Buta Lawan Jaka Sembung (1983), Sunan Gunung Jati (1985), Si Buta Dari Gua Hantu (1985), Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986), dan Pendekar Ksatria (1988). Ia bermain di puluhan film sepanjang kariernya.

Meski banyak dikenal sebagai bintang film laga, sosok Avent Bangun tak bisa dilepaskan dari kariernya sebagai atlet karate. Apalagi saat usianya 27 tahun, Advent Bangun menjuarai ajang karateka ASEAN lain di Istora Senayan.  Advent Bangun juga pernah terpilih mewakili Indonesia ke Kejuaraan Dunia Karate II di Paris. Sejak itu nama Bangun hampir tak dapat dipisahkan lagi dari turnamen di dalam maupun di luar negeri.

Pertemuan Yohanes Thomas Advent Perangin-angin Bangun ini dengan karate berawal dari pengalamannya dicegat kawanan pelaut. Hal tersebut diceritakan berdasarkan kisah yang sempat ditulis pada Majalah Tempo edisi 4 November 1978.


Pada  tahun 1968, Advent bangun bersama kakak perempuannya sedang berjalan di daerah Tanjung Priok, Jakarta. Tiba-tiba mereka dicegat oleh serombongan pelaut -- jumlahnya sekitar 20 orang. Yang diincar para pelaut itu, siapa lagi kalau bukan si kakak perempuan.

Mula-mula Advent Bangun mencoba merendah: "Jangan ganggu kami, Kak. Kami ini orang baik-baik." Permintaan itu ternyata tidak dihiraukan. Terjadi perkelahian. Lantas Advent Bangun pun menghajar salah seorang di antara pelaut itu. Awak kapal lain ternyata tak membiarkan. Naas, Advent Bangun dikeroyok.  Akibatnya: mulutnya maju 2 cm dan kepalanya berlumuran darah. "Untung badan saya tidak cedera," katanya. Gara-gara itulah pemuda Batak itu memilih olahraga karate, sebagai jalan buat membalas dendam. Tapi ketika ia sudah mulai mengenal osh, salam persaudaraan karateka, dendamnya berangsur lipur. Yang tinggal adalah tekad. Di dunia karate tanah air saat itu, sosok Advent Bangun terkenal dengan kecepatan memasukkan pukulan tangan maupun tendangan kaki. (tempo.co)



Editor: Hariza
 
Redaksi Tentang kami Kontak Beriklan
'