Jangan lagi ada diskriminasi untuk pasien kusta. (Foto: Rachman/infografis)

JAKARTA, SEKADAU NEWS - Minggu terakhir di bulan Januari ditetapkan sebagai Hari Kusta Sedunia atau Leprosy Day. Peringatan Hari Kusta Sedunia di tahun 2018 ini diwarnai masih adanya persebaran pasien kusta di Indonesia.

Dengan tema 'Perkuat Komitmen Politik dalam Penanggulangan Kusta dan Penghapusan Stigma', Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia memiliki tekad untuk mengeliminasi penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae ini pada tahun 2019 di seluruh provinsi Indonesia.

Menurut Dr dr Sri Linuwih Menaldi, SpKK dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia, masyarakat berperan penting dalam eliminasi kusta ini.

"Kita harus menemukan sedini mungkin bercak yang ada. Bercak putih atau merah di kulit," ujar dokter yang disapa Dini itu saat temu media dalam rangka peringatan Hari Kusta Sedunia 2018 di Kementerian Kesehatan RI, Selasa (30/1/2018).


Tujuan lainnya yang tak kalah penting adalah untuk menghapus stigma kusta dan menghilangkan diskriminasi terhadap pengidap kusta. Karena seperti yang kita tahu bahwa pengidap kusta sering terkucilkan oleh lingkungan sekitarnya.

"Dulu di puskesmas-puskesmas waktu saya pindah ke Maluku Utara, pasien kusta berobat khusus di hari Jumat atau Sabtu. Itu tidak baik, menimbulkan diskriminasi. Kalau sekarang sudah bebas," tutur Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, dr Wiendra Waworuntu, MKes.

Hilangnya diskriminasi terhadap mantan pengidap kusta pun bisa dilihat di kampung kusta Sitanala Tangerang. Di kampung tersebut, sudah banyak ditempati orang-orang sehat dan berbaur dengan para mantan pengidap kusta.

"Kampung kusta ini sudah kebanyakan yang sehatnya. Yang sepuh-sepuh udah nggak ada ya tinggal anak cucunya," ujar Warhudi selaku koordinator pasien kusta.



Sumber : Widiya Wiyanti - detikHealth
Editor : Hariza

 
Redaksi Tentang kami Kontak Beriklan
'