oleh

Di Masa Depan, Regenerasi Menjadi Tantangan bagi Dota 2

Lain di belahan barat, lain di belahan timur. Di wilayah timur yang secara aklamasi selalu merujuk kepada regional China sebagai pesaing alami dari region eropa memiliki regenerasi yang lebih baik walaupun beberapa veteran masih eksis berkompetisi.

Pemain-pemain yang sempat jaya di masa lalu seperti Chuan, Xiao8, Burning lebih mantap untuk memilih pensiun dan menyerahkan tongkat estafet kepada pemain-pemain yang lebih muda. Praktis untuk region China kita mengenal nama-nama baru mulai dari Maybe aka Somnus’M (Lu Yao), Sccc (Song Chun), Papparazzi (Zhang Chengjun), dan Innocence yang langsung menjuarai The International di tahun pertamanya terjun sebagai pro bersama Wings Gaming. Sementara para jago-jago tua seperti Lanm (Zhang ZhiCheng) juga masih menghiasi dunia profesional.

Di China regenerasi berjalan dengan lebih baik dimana beberapa tim dota 2 yang sudah mapan berani berinvestasi untuk membentuk tim-tim satelit untuk mempersiapkan generasi baru pemain berbakat.

CDEC berhasil menembus final The International pada tahun 2015 dengan pemain muda macam Shiki bahkan Wings Gaming yang menjuarai The International 2016 banyak terdiri dari para pemain debutan seperti Shadow (Chu Zheyu), namun masih banyak juga para tim yang tidak mau mengambil resiko dan masih bergantung kepada pemain-pemain tua seperti LaNm dan Ferrari_430 yang sudah hampir kepala tiga, bahkan Newbee pun kembali memainkan pelatih mereka Banana (Wang Jiao) sebagai pemain aktif selepas rentetan hasil buruk.

Di Asia Tenggara yang masih dipandang sebagai region kuda hitam pun mengalami masalah yang sama. Dominasi legenda macam Mushi (Chai yee Fung) dan Iceiceice (Daryl Peh) sampai saat ini belum tergantikan walaupun TNC team yang digawangi oleh Armel (Paul Tabios) dan Kuku (Carlo Palad) cukup menjanjikan.

Jangan lupa juga region ini juga memiliki pemain harapan dalam diri Inyourdream yang berasal dari Indonesia yang belum lama ini menjuarai turnamen minor Valve bersama tim Tigers yang diisi gabungan pemain potensial dan pemain senior. Namun agaknya pemain-pemain yang muncul masih diragukan untuk membawa panji Asia Tenggara untuk mengganggu dominasi Eropa-China.

Pemain Mapan sebagai Investasi Aman

Kembali ke fenomena siklus transfer pemain-peman dota di region barat yang statis. Salah satu kemungkinan mandeknya kemunculan rising stars di sana bisa jadi karena adanya preferensi tim-tim esports untuk mengamankan prestasi sehingga lebih memilih para pemain yang agaknya bisa menjamin kemenangan di kompetisi.

Ninja in Pyjamas pernah merekrut stack bentukan Era (Adrian Kreyziiu) yang baru seumur jagung pada tahun 2015 dengan target menembus The International pada tahun yang sama yang kemudian gagal. 3 tahun setelahnya mereka akhirnya baru kembali aktif di dota 2 setelah berkesempatan merekrut PPD dan FATA yang baru keluar dari tim masing-masing.

Cloud 9 yang merupakan salah satu tim besar memutuskan vakum seelah tidak memperpanjang kontrak Eternal Envy (Jacky Mao) yang membawa Cloud 9 dua kali ke babak utama The International. dan EG kalau bukan karena mereka masih memiliki Arteezy dan Sumail mungkin juga akan berpikir hal yang sama untuk hiatus.

Dalam sebuah Interview dengan Jack Etienne sebagai pemilik Cloud 9, ia mengatakan bahwa kultur para pemain dota sangatlah tidak cocok dengan visi dan misi tim esports kebanyakan. Ia mengatakan bahwa mayoritas pemain dota terutama di Eropa dan Amerika Serikat hanya fokus terhadap bagaimana untuk bisa masuk ke The International dan tidak memikirkan tujuan jangka panjang. Setelah Envy menolak untuk memperpanjang kontraknya, Etienne pun memutuskan bahwa ia belum akan memiliki tim dota 2 lagi dalam waktu dekat. Optic Gaming yang sempat menaungi PPD pun setali tiga uang sebelum kembali menemukan pemain bintang yang berstatus Free Agent.

Kurangnya campur tangan Valve selaku developer dota 2 juga dinyana sebagai penyebab utama tim-tim barat tidak mau berspekulasi. Tidak adanya seperangkat aturan yang jelas dan kurangnya transparansi dalam pengelolaan kompetisi membuat beberapa organisasi esports juga enggan berkomitmen membangun tim dota 2 untuk mewadahi para pemain-pemain yang tidak diklasifikasikan sebagai pemain bintang. Noah Whinston sebagai CEO dari Tim Immortals pernah mengomentari kurangnya transparansi dari Valve terkait penentuan kriteria tim yang berhak lolos menuju The International terhadap esports dota 2 dinilai akan mengganggu kestabilan iklim kompetisi.

Kesimpulan

Dota 2 secara konsisten menancapkan namanya sebagai salah satu dari 3 esports terbesar di dunia setelah League of Legends dan Counter Strike : Global Offensive namun terbelakang dalam urusan pemunculan talenta-talenta baru. League of Legends yang menerapkan sistem kompetisi liga mendorong ekosistem bagi organisasi Esports untuk membangun tim akademi sebagai inkubator bakat-bakat baru, selain itu mereka juga rutin mengadakan pencarian bakat yang diberi nama dengan Scouting Grounds setiap tahun untuk regional Amerika utara.

CS : GO berhasil membangun kultur kompetisi yang mendorong para organisasi esports yang berkompetisi untuk terus mendorong perekrutan pemain-pemain yang belum bernama hingga berhasil dikenal oleh para fans sehingga persaingan terasa lebih merata. Di Dota 2 kita masih harus menunggu kemunculan pemain baru untuk menggeser dominasi para veteran yang itu-itu saja.

 

Sb: kompasiana.com/Hendrie Santio

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *