oleh

Komunitas Pemuda Jelajahi Wisata Bukit Uyu dan Cerita Mitos Legenda Dewi Padi

KAPUAS HULU, Sekadaucom – Ada sekitar kurang lebih 11 komunitas pemuda lakukan perjalanan wisata di Bukit Uyu, Desa karya mandiri, Kecamatan Hulu gurung (na letuh), Kabupaten kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Komunitas yang ikut dalam perjalanan wisata tersebut yakni, Komunita Pencinta Alam Kecamatan Hulu Gurung, Pendaki Kapuas Hulu, Anak Penjelajah Wisata Kapuas Hulu, Club Solidaritas Sekadau, KPA Paukc, KPA Piabung, KPA Uyu Gansir, KPA KPP Semujan Dorsata, KPA Sesampau Seperapi, KPA Boyan Tanjung Update.

Sementara gue sendiri dari komunitas Club Solidaritas sekadau bernama Arif effendi yang ingin berbagi informasi mengenai perjalanan kami di beberapa tempat selama kurung waktu 3 bulanan ini.

Setelah beberapa bulan yang lalu gue juga pernah share mengenai perjalanan gue dibeberapa tempat.

Oke kita mulai aja dari Bukit Uyu.

Jangan bertanya kenapa kebanyakan bukit tuh namanya aneh-aneh dan gue juga nggak tau kenapa nama bukit pada aneh-aneh.

Mengenai Bukit Uyu ini ada cerita menarik dibalik indahnya panorama alam yang so nature tersebut.

Menurut mitos, katanya dibukit inilah Dewi Padi bertempat tinggal.

Warga disekitar sini memanggilnya “INIK ANDAN“.

Dan menurut mitos dikatakan warga setempat, apabila kita bermimpi bertemu dengan Inik Andan, disaat musim berladang maupun bersawah, insyaallah kita akan mendapatkan hasil panen yang lumayan banyak dari biasanya.

Oke udah cukup mengenai Dewi Padi ya!.

Lanjut aja mengenai perjalanan menuju Puncak Bukit Uyu.

Bukit ini terdapat di belakang perkampungan warga (Desa Nanga letuh, Hulu Gurung).

Walaupun terdapat dibelakang perkampungan dan juga bukit ini terlihat jelas dari kampung, bukan berarti kita bakalan bisa dengan gampangnya menjejaki Puncak Bukit ini.

Adapun pendakian kepuncak ini sudah biasa dilakukan oleh para orang tua terdahulu, orang-orag tua yang berasal dari kampung sekitaran bukit ini.

Dulu, mereka (para orang-orang terdahulu) melakukan pendakian untuk melakukan ritual seperti syukuran.

Maklumlah kebudayan terdahulu.

Mereka akan membawa banyak macam sesajen yang akan dipersembahkan untuk Inik Andan.

Kemudian para warga yang telah berada dipuncak akan melakukan semacam nyanyian yang diiringi oleh berbagai macam alat musik tradisional yang dimainkan dengan khidmat.

Biasanya itual ini dilakukan setelah berakhirnya masa panen.

Gue mulai aja ya, perjalanan dari Kampung Nanga Yen ini, untuk perjalanan normal mungkin skitar 4 – 5 jam udah nyampe puncak.

Soalnya kita memang langsung berjalan kaki dari perkampungan warga.

Untuk mencapai kaki bukit aja kita musti mencapai perhuluan sungai terlebih dahulu.

Perjalanan untuk mencapat kaki bukit ini membutuhkan waktu sekitar 1 jam-an. Dan selanjutnya pendakian bisa dimulai.

Penjelaasan diatas merupakan untuk perjalanan normal ya, nah gue mau berbagi pengalaman juga nih mengenai perjalanan gue kemarin.

Orang yang normalnya hanya membutuhkan waktu skitar 5 jam, nah gue dan kawan-kawan gue butuh waktu 8 jam lebih untuk mencapai puncak.

Lah kok bisa? Jangan tanya kenapa bisa begitu. Sudah pasti gue dan dkk tuh tersesat.

Namanya juga nggak ada guide, iya kita modal nekat aja. Toh “Takkan Lari Gunung Dikejar”.

Trek akan kita jumpai merupakan trek curam. Bahkan dibeberapa tempat bika akan menemui trek pendakian hampir 90 derajat.

Pokoknya siapin stamina sebelum membulatkan tekad untuk mendaki nih gunung.

Ini track bukan track untuk pendaki manja. Tak jarang terkadang pendaki membatalkan niatnya untuk ke puncak, saking dropnya stamina.

Tapi gue beda, biarpun gue udah kayak ikan yang kekurangan air tapi gue tetap pantang mundur.

Biarpun harus berhenti setelah 3-4 langkah, lanjut lagi, 3-4 langkah, istirahat lagi.

Hahaa yang penting gue nyampe.

Dan mengenai cerita tersesatnya rombongan gue, itu dikarenakan kita memang mencoba inisiatif untuk mencari track yang lebih gampang untuk mencapai puncak, namun hasilnya jauh diluar prediksi.

Tapi tetap ada hikmahnya kok! Toh gue dan kawan-kawan merasa menikmati perjalanan.

Kita menjumpai banyak air terjun yang kemungkinan tak banyak orang yang pernah melihat air-air terjun tersebut.

Ada air terjun yang bertingkat-tingkat, ada yang tinggi, ada yang sedang, ada-ada saja deh pokoknya.

Beberapa nama air terjun yang sudah tak asing bagi masyarakat setempat ialah, Air Terjun Berasap (Sarai Berasap) dan juga Air Terjun Merangas (Sarai Merangas).

Saya juga akan membuat postingan mengenai kilasan seputar keindahan sarai berasap.

Mengenai malam saat di puncak uyu. Bukit ini merupakan sebuah batu yang memanjang. Lebarnya hanya sekitar kurang lebih 10 meter.

Kalau panjangnya gue kurang tau, ratusan mungkin. Anggapnya kayak puncak tebing yang memanjang.

Di kedua sisinya jurang loh, hati-hati buat yang lagi galau. Nantinya loncat dimari.

Saat malam kita akan melihat bintang-bintang malam seperti memunggungi bukit ini.

Iya jelas soalnya ini bukit batu, jadi tidak ada yang menghalangi pandangan kita. Hanya pepohonan kecil aja yang tumbuh disisi.

Di tempat ini ada beberapa nama yang cukup terkenal bagi warga sekitar. Yaitu, “Tangga Inik Anan” yang merupakan batu alami yang tersusun menyerupai tangga.

Selain itu, “Batu Rawan“, track yang melewati jurang batu dengan lebar skitar 5 meter. Kalau dimusim hujan ini merupakan track yang berbahaya. Karena kita akan berjalan diatas batu sepanjang kurang lebih 20 meter kedepannya. Dan dikedua sisi batu ini merupakan jurang curam.

Tanah Malay“, merupakan sebuh gundukan tanah di tengah-tengah dinding Bukit Ini, sudah puluhan orang dari jaman dahulu yang pernah mencoba untuk menjejakan kaki di gundukan tanang ini, namun belum satu orangpun yang bisa mencapainya.

Menurut mitos, di Tanah Malay ini terdapat beberapa tanaman langka, seperti Buluh Perindu, Jerangau Merah, Perupuk Merah dan banyak lagi tanaman langka lainnya.

Tanah Malay ini merupakan tempat “Mpalang Benih” nya Inik Andan yang dianggap sebagai tempat yang sakral dan tak boleh tersentuh oleh tanga-tangan jahil.

Dan menurut cerita tetua didesa terdekat, di tanah Malay ini terdapat banyak sekali tulang belulang para hewan liar, seperti tulang burung, tulang tupai dan hewan-hewan liar yang bisa dikategorikan dapat mencapai tempat ini dengan gampang.

Kenapa banyak tulang belulang hewan ditanah Malay tersebut?

Sebab, siapapun yang telah menginjakan kakinya ditanah Malay ini, maka ia tidak akan bisa pulang kembali, sebab menurut dongeng atau kepercayaan warga setempat buluh perindu mempunyai kehebatan yang akan membuat siapapun terpikat dan enggan meninggalkan tempat tersebut.

Oke, sekian dulu untuk mitosnya.

Kita lanjutkan mengenai suasana pagi di puncak bukit ini. Gue bangun tidur sekitar jam setengah lima, dipuncak ini sudah mulai terlihat terang.

Maklumlah kalau dipuncak, awal pagi dan terakhir senja, embun-embun terlihat mulai membentuk seperti awan.

Padahal niatnya gue sebelum muncak kemarin tuh pengen foto bareng awan, tapi sayangnya awannya jauh dari kita.

Awannya jauh berada d bawah bukit uyu ini. Jadinya kita cuman bisa menyaksikan keindahan ciptaan tuhan dari kejauhan aja.

Tapi jangan salah, justru hal seperti inilah yang membuat pemandangannya menjadi lebih menarik dan woooww!

Udah ini aja dulu, kalau mau tau lebih banyak silahkan datang dan saksikan dimari.

Komunitas pemuda lakukan perjalanan wisata di Bukit Uyu, Desa karya mandiri, Kecamatan Hulu gurung (na letuh), Kabupaten kapuas Hulu, Kalimantan Barat.(foto: Arif effendi)

Penulis: Arif effendi

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga