oleh

Setelah Rusia dan China, Perancis Kembangkan Pesawat Tempur Kecepatan Mach 5 bersenjata Hipersonik

DUNIA | sekadaucom – Setelah Rusia dan China yang mengumumkan mengembangkan senjata hipersonik, kali ini giliran Perancis mengumumkan akan mulai membangun pesawat yang mampu terbang hingga kecepatan Mach 5 (hingga 6.174 kilometer per jam).

Memang sejumlah negara besar di dunia telah mulai berlomba-lomba dalam mengembangkan senjata hipersonik yang mampu melaju melebihi kecepatan suara.

Menteri Angkatan Bersenjata Perancis, Florence Parly mengatakan, Kami telah memutuskan untuk menerbitkan kontrak pesawat terbang hipersonik, yang mampu melaju hingga lebih dari 6.000 kilometer per jam.

“Banyak negara yang telah memilikinya (persenjataan hipersonik) dan kita punya kemampuan untuk mengembangkannya. Kita tidak bisa menunggu lagi,” kata Parly dilansir kompas.com, sabtu

Parly menambahkan akan menargetkan pesawat tersebut sudah dapat menjalani uji terbang pada akhir 2021.

Melansir dari AFP, Perancis disebut telah melakukan studi tentang sistem tenaga penggerak untuk penerbangan hipersonik senilai 37 miliar euro (sekitar Rp 597 triliun), sebagai bagian dari perombakan persenjataan nuklirnya.

Perancis telah mengembangkan rudal udara-ke-darat, ASN4G, yang akan menggantikan misil jarak menengah, ASMP.

Di bawah proyek V-MaX, yang dipimpin ArianeGroup, sistem peluncur dari rudal tersebut berpeluang dikonfigurasikan untuk perjalanan dengan kecepatan hipersonik.

“Persenjataan (hipersonik) ini dapat menjadi ancaman bagi persenjataan konvensional, bahkan nuklir,” kata Sekretariat Antar-Kementerian untuk Pertahanan dan Keamanan Nasional (SGDSN) Perancis dalam laporan 2017 tentang teknologi generasi masa depan.

Pada Desember lalu, Rusia telah menguji kemampuan sistem peluncur hipersonik terbarunya yang disebut “Avanguard”.

Kremlin bahkan mengklaim uji coba rudal antarbenua itu dapat mencapai 27 kali kecepatan suara atau Mach 27 (hingga 33.000 kilometer per jam).

“Dengan kecepatan itu, tidak akan ada satu pun rudal pencegat yang dapat menembak jatuh,” kata Wakil Perdana Menteri Rusia Yury Borisov, saat itu.

Sementara China, dilaporkan telah melakukan sejumlah tes sejak 2014, untuk sistem peluncur yang mampu mencapai kecepatan antara Mach 5 hingga Mach 10.

Amerika Serikat juga sedang menjalankan sejumlah program hipersonik, termasuk mempelajari kelayakan menempatkan sistem pencegat di luar angkasa, di mana pesawat pengorbit akan dilengkapi dengan rudal yang dapat menghancurkan hulu ledak yang masuk saat berada di luar angkasa.

“AS saat ini akan menyesuaikan sikapnya untuk mempertahankan diri terhadap serangan rudal termasuk jelajah dan hipersonik,” kata Trump saat merilis ulasan tentang jaringan pertahanan rudalnya.(er)

Sumber: AFP

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Baca juga