Kontroversi Politik, Penolakan Israel Mengikuti Turnamen U20 Di Tanah Air Berujung Batal

Kontroversi Politik, Penolakan Israel Mengikuti Turnamen U20 Di Tanah Air Berujung Batal
Para pengunjuk rasa melakukan aksi unjuk rasa di Jakarta, Senin, 20 Maret 2023. (Foto: AP)

Kontroversi Politik, Penolakan Israel Mengikuti Turnamen U20 Di Tanah Air Berujung Batal.

JAKARTA – Berbagai luapan emosi mewarnai dunia persepakbolaan di Tanah Air setelah Badan Sepak Bola Intenasional FIFA membatalkan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U20 hanya beberapa minggu sebelum perhelatan tersebut dimulai. Para atlet, penggemar dan pakar menunjukkan kemarahan dan kesedihan mereka pada Kamis (30/3).

Bacaan Lainnya

Pembatalan penunjukkan tersebut dilakukan menyusul keputusan Gubernur Bali I Wayan Koster dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang menolak keras daerahnya menggelar turnamen U20 jika kongtingen Israel turut serta.

Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik formal, sebaliknya banyak warga yang mendukung perjuangan Palestina. Akibatnya sebagian masyarakat menentang keikutsertaan Israel dalam laga berskala dunia tersebut.

Keputusan FIFA untuk mencari tuan rumah baru untuk gelaran U20 menempatkan olahraga paling populer di Tanah Air kembali lesu.

Kekecewaan batalnya Indonesia menjadi tuan rumah U20 membanjiri platform media sosial. Warganet patah hati setelah timnas Indonesia kehilangan kesempatan untuk bermain dalam laga yang disebut FIFA sebagai “turnamen superstar masa depan.”

Kontroversi Politik, Penolakan Israel Mengikuti Turnamen U20 Di Tanah Air Berujung Batal
Seorang pria berjalan melewati spanduk FIFA U20 World Cup di luar kantor PSSI, setelah Indonesia dicoret sebagai tuan rumah Piala Dunia U20 akibat protes anti-Israel, di Jakarta, 30 Maret 2018. 2023. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

“Energi, waktu, keringat, dan bahkan darah telah kami keluarkan, tetapi suatu saat gagal karena alasan politik. Inilah impian besar kami yang telah Anda hancurkan,” tulis striker berusia 19 tahun, Rabbani Tasnim.

Sebuah video tim nasional Indonesia menunjukkan para pemain dan pelatih mereka menangis dengan kepala tertunduk setelah menerima berita bahwa FIFA akan mencari tuan rumah baru pada Rabu (29/3).

“Kami, para pemain, sekarang terkena dampaknya, bukan hanya kami tapi semua pesepakbola,” kata penyerang timnas berusia 18 tahun Hokky Caraka.

Pada Kamis (30/3) pagi, papan bunga untuk para pemain bermunculan di luar markas timnas di Jakarta Pusat, termasuk papan bunga yang bertuliskan “jangan menyerah pada mimpimu.”

Warganet membanjiri halaman Instagram bakal calon presiden Ganjar Pranowo dengan komentar negatif setelah dia menentang partisipasi Israel.

Gubernur Bali juga ikut aktif dalam paduan suara anti-Israel dan sekitar seratus pengunjuk rasa Muslim konservatif mengadakan unjuk rasa anti-Israel di Jakarta bulan ini.

Sangat Menyakitkan

Jakarta berjanji untuk menjamin partisipasi Israel meskipun bersikap pro-Palestina, tetapi FIFA melihat suara yang menentang terlalu keras.

“Ini benar-benar kejadian yang sangat menyakitkan bagi rakyat Indonesia. Mereka yang membuat keributan dan membuat kami gagal…harus dimintai pertanggungjawaban,” kata Akmal Marhali, pakar pengawas sepak bola Save Our Soccer.

Para pejabat mengatakan pemerintah telah menggelontorkan ratusan juta dolar untuk mempersiapkan U20.

FIFA mengancam untuk menerapkan sanksi lebih lanjut dan dapat melarang Indonesia dari kualifikasi Piala Dunia 2026 yang dimulai pada Oktober.

Sebelumnya FIFA juga telah memberikan sanksi pada PSSI selama satu tahun pada 2015 karena pemerintah dinilai ikut campur tangan dalam persepakbolaan Tanah Air.

Namun bagi para penggemar berat sepak bola, kehilangan kesempatan untuk menggelar turnamen sepak bola berskala internasional itu sangat menyakitkan.

“Saya sangat kecewa karena sudah menjadi impian saya untuk menyaksikan Indonesia menjadi tuan rumah acara sepak bola dunia,” kata Jarnawi, 40 tahun.

Industri sepak bola di Tanah Air telah lama dirundung oleh sejumlah masalah, seperti buruknya infrastruktur sekaligus kelakuan anarkis para penggemarnya. Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan lebih dari 130 orang menjadi contoh bagaimana buruknya tata kelola olahraga itu.

Namun benturan politik dan olahraga yang pada akhirnya membuat turnamen itu yang telah diharapkan banyak orang itu kandas.

“Kita berbicara tentang pemuda yang ingin bermain sepak bola. Mereka tidak memiliki minat lagi,” kata pengamat Justin Lhaksana.

“Mengapa masalah ini dicampur secara membabi buta dengan permainan politik?”

BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pos terkait

Konten berikut adalah iklan platform MGID. Sekadau.com tidak terkait dengan isi konten tersebut.

Tinggalkan Balasan