Skripsi Kehamilan Risiko Tinggi Dianjurkan Melakukan Noninvasive Prenatal Testing (NIPT)

Skripsi Kehamilan Risiko Tinggi Dianjurkan Melakukan Noninvasive Prenatal Testing, (Gambar Ilustrasi)
Skripsi Kehamilan Risiko Tinggi Dianjurkan Melakukan Noninvasive Prenatal Testing, (Gambar Ilustrasi)

JAKARTA – Dokter spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Dr. Med. dr. Damar Prasmusinto SpOG Subs KFM dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, menggarisbawahi pentingnya noninvasive prenatal testing (NIPT) sebagai langkah penting dalam mengelola kehamilan dengan risiko tinggi.

NIPT adalah metode pemeriksaan kehamilan yang non-invasif yang dapat membantu meminimalisir risiko kelainan janin.

Bacaan Lainnya

Dalam sebuah diskusi kesehatan daring yang diadakan di Jakarta pada hari Selasa, Dr. Damar Prasmusinto menjelaskan bahwa ibu hamil dengan faktor risiko tertentu, seperti usia di atas 35 tahun, riwayat keluarga dengan cacat bawaan, atau sejarah kematian janin dalam rahim sebelumnya, sangat disarankan untuk menjalani pemeriksaan NIPT.

Menurut anggota Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) ini, pasangan yang hamil di atas usia 35 tahun dan laki-laki yang berusia di atas 55 tahun memiliki risiko kelainan bawaan yang meningkat hingga sekitar 100 banding 1 kelahiran.

Prosedur NIPT melibatkan pengambilan sampel darah dari ibu hamil, yang mengandung DNA bayi yang dikandungnya.

Dari sampel darah ini, dokter dapat menganalisis kondisi bayi untuk melihat apakah ada kelainan kromosom atau tidak.

Dr. Damar menjelaskan bahwa perkembangan teknologi selama bertahun-tahun telah menjadikan NIPT sebagai metode yang aman bagi janin, karena yang diambil adalah sampel darah dari ibu.

Hal ini berbeda dengan pemeriksaan lain yang melibatkan pengambilan air ketuban dengan cara disuntik ke perut ibu, yang dapat menyebabkan risiko kecacatan pada bayi saat lahir.

Namun, perlu diingat bahwa NIPT memerlukan biaya yang cukup tinggi dan belum ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Oleh karena itu, pemeriksaan ini lebih diutamakan untuk ibu hamil dengan risiko tinggi.

Saat ini, NIPT masih terbatas pada pemeriksaan 5 jenis kelainan janin seperti sindrom Down, sindrom Edward, sindrom Patau, atau trisomi 21, 18, dan 13.

Dr. Damar menambahkan, “Sensitivitas NIPT cukup baik, mencapai 99 persen, artinya ada kemungkinan salah satu dari 100 kasus yang diperiksa mungkin perlu dikonfirmasi lagi dengan pemeriksaan air ketuban yang dianggap sebagai standar emas.”

NIPT dianjurkan untuk ibu hamil dengan risiko tertentu pada usia kehamilan antara 11 hingga 14 minggu atau saat memasuki trimester kedua awal.

Hal ini karena pada usia kehamilan tersebut, jumlah DNA bayi sudah mencukupi untuk dianalisis, dan jika diperlukan tindakan seperti pengguguran, masih dapat dilakukan dengan lebih mudah dibandingkan dengan usia kehamilan yang lebih lanjut.

Dr. Damar juga menekankan bahwa kelainan kromosom pada janin tidak dapat dicegah, tetapi risikonya dapat diminimalisir melalui pemeriksaan NIPT.

Selain itu, penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang tepat, termasuk asam folat, seng, dan enzim lainnya, untuk mendukung perkembangan janin dan mengurangi risiko kelainan, seperti kelainan tulang belakang atau bibir sumbing.

Jika hasil NIPT menunjukkan indikasi adanya kelainan kromosom, dokter perlu memberikan konseling kepada pasien dan merencanakan intervensi yang diperlukan, seperti suplemen asam folat, zat besi, dan vitamin D, untuk memastikan perkembangan janin tetap optimal meskipun ada kelainan.

Kehadiran NIPT memberikan harapan bagi ibu hamil dengan risiko tinggi untuk memantau dan mengelola kehamilan mereka dengan lebih efektif.

BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pos terkait

Konten berikut adalah iklan platform MGID. Sekadau.com tidak terkait dengan isi konten tersebut.